Empat Langkah Jitu Memikat Konsumen Herbal
mengapa jamu menjadi ‘stuck’ di tengah gempuran herbal.
Berkhasiat, aman dan terjangkau. Itulah gambaran singkat mengapa seseorang lebih memilih obat herbal dibandingkan dengan obat-obatan lainnya. .Semakin maraknya penggunaan obat-obatan herbal di masyarakat untuk menggantikan obat-obatan produksi pabrik menunjukan bahwa tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya menggunakan pengobatan yang alami semakin tinggi, masyarakat mulai sadar akan potensi alamiah obat herbal yang tidak kalah jika dibandingkan dengan obat-obatan yang sudah beredar di pasaran. Namun, Benarkah obat herbal tidak memberikan efek samping?
Tersebarnya stand herbal di mal, pusat perbelanjaan dan beberapa tempat strategis di komplek perumahan elite membuat herbal menjadi naik kelas, menjadi primadona bagi mereka (baca ; kalangan berpunya) yang sadar akan kesehatan pengobatan alamiah, bahkan mengalahkan jamu yang secara empiris lebih dikenal luas. Hal itu disebakan oleh strategi marketing yang bagus dilakukan oleh produsen herbal. Harus diakui, herbal berada satu tingkat di atas jamu. Meninggalkan pasar yang ada dan membuat inovasi produk baru untuk menciptakan peluang dari pasar yang belum digarap secara serius. Itulah yang coba dilirik oleh industri farmasi saat ini, menggarap pasar herbal yang sedang digandrungi konsumen. Lantas langkah apa saja yang menjadikan herbal begitu memikat dimata konsumen?
Pertama, Masalah pencitraan produk menjadi sebuah strategi jitu yang dikedepankan produsen untuk meningkatkan penjualan produk herbal. Dari segi kemasan, produk herbal unggul segalanya dibandingkan dengan sediaan jamu, kemasan herbal dibuat jauh lebih menarik dan menunjukan pencitraan yang sangat kuat dengan adanya logo herbal terstandar pada kemasannya. Selain itu, nama herbal yang mengikuti nama western membuat herbal terlihat lebih menjual dibandingkan dengan nama jamu yang terlalu “ndeso” di mata masyarakat. Ditambah lagi, umumnya produk herbal telah dijual di beberapa tempat yang secara notabene merupakan etalase untuk golongan menengah ke atas, seperti apotek, rumah sakit bahkan telah merambah di beberapa pusat perbelanjaan atau plaza dengan adanya stand produk herbal, hal itu semakin meningkatkan pencitraan herbal sebagai produk yang aman karena masyarakat berfikir bahwa produk yang dijual di tempat seperti itu telah melalui proses seleksi yang baik.
Kedua, faktor kepercayaan masyarakat sebagai konsumen menentukan tingginya animo penggunaan herbal akhir-akhir ini. Bagi sebagian konsumen menengah ke atas, berkurangnya kepercayaan terhadap obat tradisionil membuat mereka melirik produk herbal. Ditambah lagi dengan semakin menurunnya popularitas jamu akibat adanya penggunaan bahan kimia obat (BKO) dalam produk jamu semakin menaikkan popularitas herba terstandar sebagai pilihan yang aman. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu) Charles Saerang mengatakan hanya 69 pabrik jamu yang sudah menjalankan Cara Pengolahan Obat Tradisional yang Baik (Good Traditional Medicine Manufacturing Practices). Hal itu menunjukan bahwa pengolahan sediaan jamu masih minim, dan setiap sachet jamu belum tentu memiliki takaran yang tepat secara khasiat. Sementara bila kita merunut pada sediaan herbal, pada tanggal 31 Agustus 2007, Sido Muncul telah memperoleh sertifikat Obat Herbal Terstandar (OHT) dari Badan POM RI untuk produk Tolak Angin yang telah melalui serangkaian penelitian uji khasiat.. Dalam penelitian yang bekerja sama dengan Laboratorium Bioteknologi FK Undip dibuktikan, penggunaan produk itu dengan dosis dua sachet dalam jangka waktu tujuh hari dapat meningkatkan daya tahan tubuh.
Alasan ketiga ialah karena herba diyakini lebih aman. Namun perlu diketahui tentang ada tidaknya interaksi antara herbal dengan obat-obatan yang saat ini sedang dikonsumsi. Karena kita tahu, beberapa tahun belakangan ini terapi herbal menjadi salah satu alternatif penyembuhan penyakit yang cukup digandrungi oleh masyarakat. Kendati berbahan alami, terapi herbal bukan tanpa efek samping. Menteri Kesehatan Endang Rahayu Setyaningsih mengakui penggunaan herbal sebagai obat tradisional terus meningkat. Namun sebagai konsumen, hendaknya masyarakat mengetahui dan teliti terhadap khasiat dan efek samping herbal yang akan digunakan. Bila tidak, itu bisa membahayakan diri sendiri
."Nah, inilah perhatian Kemen-kes untuk melakukan riset terhadap khasiat pengobatan herbal. Selama memenuhi ketentuan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), terapi herbal tidak masalah. Tapi kalau tidak, itu membahayakan," jelasnya.
Namun, terdapat satu kelemahan mendasar yang seharusnya disadari konsumen tentang efek kerja obat herbal umumnya bekerja lebih lama. Berbeda dengan obat kimia yang langsung bekerja ketika digunakan, Herbal umumnya tidak langsung bekerja efektif ketika diminum, perlu waktu lama untuk mencapai efek yang diinginkan. Menurut pengakuan Aldrin Neilwan, Kepala Unit Complementary Alternative Medicine (CAM) RS Kanker Dharmais, penggunaan obat herbal semakin diakui dunia kedokteran, termasuk perannya dalam penyembuhan penyakit kanker.
“Namun perannya belum menjadi obat utama. Obat-obatan herbal masih sebatas berperan preventif, rehabilitatif, dan paliatif,” ujar Aldrin.
Keempat, ketersediaan bahan baku yang besar membuat peluang untuk memproduksi dan memasarkan produk herbal semakin luas. komoditas tanaman obat yang bisa menjadi andalan seperti jahe, lengkuas, kencur, kunyit, lempuyang, temulawak, hingga kapulaga bisa dimanfaatkan menjadi produk herbal yang menjanjikan bagi produsen. Tak hanya dimanfaatkan untuk produksi sendiri, Nyonya Meneer telah menyuplai bahan jamu untuk perusahaan asal luar negeri seperti Bayer. Soho pun mengekspor produk herbal ke Malaysia, Mongolia, Nigeria, Myanmar, Mauritius, Lebanon dan Brunei Darussalam. Hanya saja, yang diekspor Soho berupa produk Curcuma Plus, bukan ekstrak temulawak. Sayangnya, dalam mengembangkan produk herbal terstandar hingga siap dilempar ke pasar, diperlukan proses yang cukup rumit , seperti penyediaan bahan baku, penelitian-penelitian pre-klinik seperti standart kandungan bahan berkhasiat, uji toksisitas hingga sertifikasi. Hal itulah yang menyulitkan produsen untuk menekan harga beberapa produk herbal menjadi lebih terjangkau. Padahal dari segi kualitas, bahan baku herbal dari Indonesia tak kalah bagus dari ekstrak bahan herbal asal luar negeri, bahkan lebih baik. Untuk urusan dalam negeri, Selain Soho - yang sudah menjadikan produk berbasis temulawak (curcuma) sebagai ikonnya menjadi andalan karena menyumbang tak kurang dari 30% total produksi - Dexa termasuk salah satu pemain yang cukup serius mengembangkan pasar herbal, khususnya fitofarmaka. Sejauh ini Dexa sudah memasarkan merek Stimuno untuk penguat sistem imun, ada juga Tripoten yang merupakan suplemen alami pria untuk meningkatkan stamina dan vitalitas. Ada lagi Toxilite (produk suplemen untuk mengoptimalkan detoksifikasi oleh hati) dan obat resep Divenplus.
Jargon ‘hidup selaras dengan herbal’ nampaknya berhasil menaikkan peringkat herbal menjadi produk yang lebih disenangi masyarakat. Bahkan di luar negeri, dokter mulai memberikan herbal sebagai pengobatan utama, itu karena dokter cenderung memberikan pengobatan yang aman walaupun memberikan efek terapetik yang cukup lama. Namun, hal ini tidak berlaku bagi penyakit yang memerlukan aksi kerja yang cepat, karena herba umumnya bekerja lambat untuk mencapai tempat aksi. Berbeda dengan keadaan di indonesia, dokter cenderung memberikan obat kimia modern yang bekerja secara cepat, walaupun memiliki efek samping yang banyak merugikan . Hal ini dimaklumi, karena bila dokter memberikan herbal sebagai pengobatan utama, yang notabene memberikan efek teraupetik dalam jangka waktu lama. Maka dokter tersebut bisa dianggap tidak manjur dalam menyembuhkan penyakit. Stigma inilah yang perlahan mulai diubah, Ketua Perhimpunan Dokter Herbal Indonesia dr Hardhi Pranata Sp.S.MARS saat mendampingi Ibu Ani Yudhoyono meninjau taman herbal di Istana Cipanas, Cianjur, Senin (5/4/2010) pagi, mengatakan anjuran Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih pada 6 januari 2010 mendorong para dokter memakai jamu dalam pengobatannya. Menurut Hardhi, dalam waktu dekat untuk meningkatkan kompetensi dokter dalam penggunaan obat-obatan berbahan herbal, akan diresmikan program studi magister pengobatan herbal di Universitas Indonesia. Bila telah direalisasikan, hal ini patut disyukuri, karena dengan sumber daya tanaman herbal yang sangat luas, maka diperlukan sumber daya manusia yang terampil menangani herbal agar herbal dapat berkembang dengan baik , dan menjadi pilihan utama untuk pengobatan yang tidak memerlukan mode aksi yang cepat. Semoga…
Sumber kutipan wawancara;
http://www.depdagri.go.id/news/2010/04/05/sby-dorong-obat-herbal-jadi-alternatif-pengobatan
http://www.ptphapros.co.id/article.php?&m=Article&aid=19&lg=
http://swa.co.id/2008/09/strategi-dan-peluang-obat-herbal/
http://bataviase.co.id/node/155389
http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=47140
http://undip.ac.id/index.php/sido-muncul-kerjasamakan-penelitian-obat-herbal-dengan-fak-kedokteran-undip.html